Jepara – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara membuka Workshop Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diikuti oleh Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) 01 Jepara. Workshop ini dilaksanakan selama dua hari pada 9-10 Februari 2026 di Ruang Multimedia MAN 1 Jepara. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kompetensi guru agar semakin humanis, nasionalis, serta adaptif terhadap dinamika kebijakan pendidikan.
Workshop ini juga menjadi wadah diseminasi Keputusan Menteri Agama (KMA) terkait pengembangan kurikulum, sekaligus penguatan perspektif konten pembelajaran. Guru diharapkan tidak hanya mengandalkan buku LKS dan buku paket, tetapi memahami secara mendalam apa yang diajarkan, mengapa diajarkan, dan bagaimana mengajarkannya sesuai konteks zaman.
Dalam pembahasan kurikulum, peserta diajak memandang perubahan kebijakan sebagai keniscayaan. Perubahan kurikulum tidak lagi disikapi secara kaku, melainkan secara wajar dengan menonjolkan pemahaman substansi, metodologi, dan teknik pembelajaran. Guru-guru muda yang potensial pun didorong untuk menjadi penggerak dan pengawal Kurikulum Operasional Madrasah, dengan semangat mengedepankan aksi nyata daripada sekadar pemenuhan administrasi.
Kepala Kankemenag Jepara Akhsan Muhyiddin dalam sambutannya menegaskan bahwa perubahan adalah sebuah keharusan. “Memang kita harus berubah sesuai dengan zamannya. Dalam hadis disebutkan didiklah anak-anak kita sesuai dengan zamannya. Apapun kurikulumnya kontennya sejatinya sama yaitu Akhlakul Karimah” tegasnya.

Akhsan Muhyiddin juga menekankan bahwa tantangan utama dalam implementasi kurikulum bukan hanya pada materi tetapi pada keteladanan guru. “Kita bisa menyampaikan materi apa pun, tetapi jika tidak mampu memberikan contoh yang baik maka pesan pembelajaran tidak akan sampai” ujarnya.
Lebih lanjut, Kakankemenag Jepara menyoroti pentingnya metode dalam membangun keteladanan. Kesalahan dalam memberi perumpamaan atau memilih pendekatan instan dalam menyelesaikan masalah justru dapat melahirkan pembelajaran yang keliru. “Walaupun kurikulumnya berbasis cinta jika contoh yang diberikan salah maka implementasinya juga akan salah” tambahnya.
Selain penguatan kualitas pembelajaran, Kakankemenag Jepara juga menyatakan komitmennya terhadap peningkatan kesejahteraan guru. Ia menyampaikan dukungan penuh terhadap upaya peningkatan Tunjangan Profesi Guru (TPG), baik impassing maupun non-impassing. “Kami sangat sepakat kesejahteraan guru harus ditingkatkan. Mudah-mudahan tahun ini kesejahteraan guru terus mengalami peningkatan” harapnya.
Melalui workshop ini, Kementerian Agama Kabupaten Jepara berharap terwujud guru-guru madrasah yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga menjadi teladan, berorientasi pada aksi, serta mampu mengimplementasikan kurikulum secara bermakna dan berlandaskan nilai cinta.









